Saya teringat antusias kakak sepupu yang kerja di Ikan Bakar
Cianjur cab. Cipete, gimana nasi liwet cianjur ukurang 1 liter dan 1,5
liter bisa laris manis dan kalau mau beli harus order dulu karena
disajikan dalam posisi panas fresh from kitchen, dengan harga 50 rb /
castrol ( media untuk ngeliwet ) bagi saya termasuk harga yang tinggi.
Karenanya, daripada jauh2 pesen ke cipete dan sampai kesini sudah dingin, akhirnya saya punya ide untuk membuat nasi liwet sendiri dan dimakan lebih natural yaitu diatas daun pisang yang digelar dan dimakan berjamaah ( mayor - bahasa sunda , kepungan - bahasa jawa )

2. Tempe dan Oncom / tempe gembos ( oncom cianjur punya warga dan rasa yg lebih khas )
3. Lalapan ( Terong, Petai, Rendeu dan poh-pohan )



4. Cabe untuk sambel
Proses masak sangat simple karena bahan-bahan yang perlu dimasak adalah nasi liwet, yang cukup dikasih garam, penyedap, daun salam, sereh dan irisan bawang daun, dimasak api sedang kurang lebih 30 menit dan 10 menit terakhir mematangkan dengan api kecil.
Pelengkapnya cukup digoreng, ditumis dan direbus, Lalapan Rendeu dan poh-pohan dimamah mentah saja.
Setelah semua selesai siap dihidangkan dan disantap, berikut urutan penyajian sampai ludesnya…




Jadi dengan modal 50 rb plus beras 1 liter, bisa untuk makan
berjamaah 6 orang, nikmat mantap dan mengenyangkan, sekaligus menjadi
ajang keakraban antar anggota keluarga.
Karenanya, daripada jauh2 pesen ke cipete dan sampai kesini sudah dingin, akhirnya saya punya ide untuk membuat nasi liwet sendiri dan dimakan lebih natural yaitu diatas daun pisang yang digelar dan dimakan berjamaah ( mayor - bahasa sunda , kepungan - bahasa jawa )
Nasi Liwet Daun Pisang
Jadilah dengan modal 50 rb saya ke pasar dan belanja-belanja untuk menu pelengkap liwet yaitu :
1. Ikan asin 1 ons2. Tempe dan Oncom / tempe gembos ( oncom cianjur punya warga dan rasa yg lebih khas )
3. Lalapan ( Terong, Petai, Rendeu dan poh-pohan )
Lalapan Reundeu
Lalapan Pohpohan
Petai Rebus
Proses masak sangat simple karena bahan-bahan yang perlu dimasak adalah nasi liwet, yang cukup dikasih garam, penyedap, daun salam, sereh dan irisan bawang daun, dimasak api sedang kurang lebih 30 menit dan 10 menit terakhir mematangkan dengan api kecil.
Pelengkapnya cukup digoreng, ditumis dan direbus, Lalapan Rendeu dan poh-pohan dimamah mentah saja.
Setelah semua selesai siap dihidangkan dan disantap, berikut urutan penyajian sampai ludesnya…
Nasi Liwet daun pisang siap santap
Seksi icip-icip maknyus
Menyantap dan menikmati
Sudah ludes tak bersisa, kecuali daun pisangnya
Sebenarnya selain itu ada juga yang di Jln. Raya Cipanas deket Pertigaan Cipendawa sebelum turunan menjelang Simpang Raya bila dari arah cianjur, disanapun Sate Maranggi tidak kalah enaknya.
Bumbu Sate Maranggi sendiri sangat sederhana, hanya menggunakan bumbu bacem pada sate daging sapinya, sehingga saat dibakar bumbu sudah meresap dan dagingnya pun empuk nikmat.
Murah, nikmat dan mengenyangkan tentunya, jadi sempatkan liburan ke Cianjur ( Cianjur tidak hanya Puncak ) dan mampirlah ke warung sate maranggi.
Kapankah terakhir kita menikmati makanan dan camilan jadul?
saking lamanya kita sampai lupa rasa dan nama makanan jadul yang pernah
kita rasakan semasa kecil.
Nah untuk urusan Camilan Jadul yang setelah bertahun lamanya tidak saya temui adalah Ongol-ongol dan Ciwang.
Kedua camilan tersebut bisa saya cicipi kembali ketika menghadiri yasinan rutinan di rumah Nenek.
Yaps ongol-ongol dan ciwang ini camilan sederhana tapi sarat makna dan terkesan “jadul”.
Tampilan Ongol-ongol itu berwarna kecoklatan dengan taburan parutan kelapa mengelilinginya, bahkan ongol-ongol itu mempunyai nama lain yaitu : kuweh eyog ( bhs indonesia : kue bergoyang ) karena kalau disentuh dan digerak-gerakkan seolah-olah bergetar dan goyang kiri-kanan
ongol-ongol
Kalau tampilan dari Ciwang adalah putih karena tanpa campuran pewarna
sama sekali, dan ciri khasnya diatasnya ditaburi Goreng bawang merah.
Ciwang
Perbedaan dari kedua jenis makanan itu adalah :
- Ongol-ongol terbuat dari Tepung Sagu Aren yang dimasak dengan menggunakan gula aren dan rasanya manis dengan aroma khas yang mengundang selera.
- Ciwang terbuat dari Tepung Tapioka ( Singkong ) dan cukup dikasih garam saja saat dimasak dan setelah jadi ditaburi bawang goreng diatasnya.. hmm yummy.
Saat ini semakin sulit menemukan camilan-camilan tradisional di warung-warung karena kalah serangan oleh snack-snack berpengawet dan pemanis buatan dengan harga murah dan rasa yang wah, padahal dari segi kesehatan sangat dianjurkan untuk dijauhi.
Nah untuk urusan Camilan Jadul yang setelah bertahun lamanya tidak saya temui adalah Ongol-ongol dan Ciwang.
Kedua camilan tersebut bisa saya cicipi kembali ketika menghadiri yasinan rutinan di rumah Nenek.
Yaps ongol-ongol dan ciwang ini camilan sederhana tapi sarat makna dan terkesan “jadul”.
Tampilan Ongol-ongol itu berwarna kecoklatan dengan taburan parutan kelapa mengelilinginya, bahkan ongol-ongol itu mempunyai nama lain yaitu : kuweh eyog ( bhs indonesia : kue bergoyang ) karena kalau disentuh dan digerak-gerakkan seolah-olah bergetar dan goyang kiri-kanan
- Ongol-ongol terbuat dari Tepung Sagu Aren yang dimasak dengan menggunakan gula aren dan rasanya manis dengan aroma khas yang mengundang selera.
- Ciwang terbuat dari Tepung Tapioka ( Singkong ) dan cukup dikasih garam saja saat dimasak dan setelah jadi ditaburi bawang goreng diatasnya.. hmm yummy.
Saat ini semakin sulit menemukan camilan-camilan tradisional di warung-warung karena kalah serangan oleh snack-snack berpengawet dan pemanis buatan dengan harga murah dan rasa yang wah, padahal dari segi kesehatan sangat dianjurkan untuk dijauhi.

























